Rabu, 03 Februari 2010 di 19.33 |  
Oleh : Sakura



Musim dingin berangsur-angsur berakhir di Jepang. Sebentar lagi tiba musim semi, waktu yang ku tunggu-tunggu. Aku bisa melakukan hanami1 walupun sendiri tapi aku cukup menikmatinya. Tempat yang paling indah untuk melakukan hanami adalah di sekeliling Istana Raja Park yang dikelilingi oleh danau buatan yang indah. Aku menikmati setiap detil bunga sakura, walaupun sendiri, tapi itu sungguh sangat mengasikkan. Apalagi ketika cabang-cabangnya menjuntai mengenai air danau.

Tapi jika di Intana Raja Park para pengunjung tidak di izinkan menggelar tikar untuk melakukan piknik, ya hanya bisa melihat keindahan bunga-bunga Sakura saja. Tapi ada juga pilihan yang menarik untuk melakukan hani-mi di Ueno hampir semua pengunjung datang justru untuk piknik. Jika kita tidak membawa makanan dari rumah tempat ini cukup banyak terdapat kedai Eleven, yakni kedai-kedai

kecil untuk membeli o-bento2

Februari 2008 ini ditandai dengan mekarnya bunga Ume. Bunga yang mirip dengan Sakura, hanya saja bentuknya lebih kecil dan berwarna putih. Rasanya tidak sabar lagi menyaksikan keindahan bunga-bunga pada musim semi.

Aku trus saja melangkah mengikuti jalan yang menuju apartemen ku. Aku sengaja berjalan kaki hari ini menikmati detik-detik terahir berlalunya musim dingin.

“Nia!” suara lembut namun terdengar tegas memanggil namaku. Suara yang aku kenal. Seolah aku tidak perduli aku trus saja melangkah sambil mengulum senyum ku

“Konbanwa3 . Wait! don’t walking so fast, where is your car? ” wanita berpostur tinggi itu mensejajariku

“Konbanwa. Untuk beberapa hari ini aku sengaja tidak mengendarai mobilku. Aku ingin menikmati alam. Ada apa?” desisku

“ i want together with you in hanami party. Have you time for me?” sudah ku duga dia akan meminta ini lagi padaku

“Anney. sorry I can’t. I want to enjoy it lonely” timpalku cuek. Aku mempercepat langkahku.

“dua tahun ini kau selalu begitu. Apa enaknya sendiri? Jika ada teman di samping mu Sakura akan lebih indah. Sakura mekar tidak satu batang kan? Aku ingin sekali bersamamu…” orang Indonesia satu ini trus saja berceloteh tanpa henti. Dia tak pernah berhenti untuk mendekati ku. Mulai dari mengajak makan malam bahkan menonton. Tapi aku tak bisa memenuhi semua permintaannya, aku hanya ingin Anney menjadi temanku, tidak lebih. Aku lebih leluasan memiliki dia sebagai sahabat ketimbang kekasih.

Aku tak bisa mengelak bahwa dia adalah sahabat yang paling baik, dia telah membantu banyak hal selama ini, mulai dari pertama kali aku di Jepang sampai penyelsaian Desertasi S3 ku. Tapi wanita itu selalu mendesak ku untuk menjadi kekasih nya. Tapi aku selalu menanggapinya biasa saja. Karena bagi ku cinta itu adalah perasaan yang mengerikan, yang selalui menibulkan rasa sakit.

“An. do you have the other friends. Ajak saja mereka. Sudah lah. I have so many job”

Bagi ku perasaan cinta itu seperti bunga Sakura pada musim semi, mekar hanya beberapa minggu kemudia dia gugur ke bawa bumi. Itu lah yang di yakini masyarakat Jepang bahwa keindahan sejati itu hanya akan terjadi sesaat.

“ya sudah lah. Jika begitu aku akan di kota Nara ke Gunung Yoshino bersama teman-teman. Jika kau berubah pikiran hubungi aku. ok” aku menghela napas panjang hingga bergumpal-gumpal seperti asap. Aku menghentikan Langkah ku dan menatap An, di lekuk-leku wajah itu ada gurat kecewa. Karena lagi-lagi dia gagal

“Am. Gomen na sai4. Aku tak bisa. Aku harap kamu bisa mengrti ya?”

“Daijoubu desu5”

Aku berbelok dan memasuki apartemen ku meninggalkan An yang masi terpaku di depan apartemen ku.



* * *



Aku membuka mantel yang menutupi tubuhku. Meletakan tas dan map yang berisi berkas-berkas kerja ku di atas meja kecil. Aku menghempaskan tubuhku di atas sofa. Pandangan ku tertuju pada dinding-dinding apartemen ku.

Sudah dua kali aku melewati musim semi di negara ini. Aku belum juga mendapatkan apa yang ku cari selama tiga tahun ini. Ingin sekali aku pulang menemui ibu di Palembang. Apa kabar nya sekarang? Aku sudah berusaha paya membujuknya untuk ikut dengan ku ke Jepang tapi dia bersekeras menolak ajakan ku dengan alasan Jepang tidak cocok untuk perempuan tua seperti dia. Padahal aku ingin sekali menyaksikan mekarnya bunga sakura bersama ibu. Tapi setiap kali aku mengajaknya untuk tinggal bersamaku dia sering terisak pilu. Itulah kenapa aku tak pernah memaksanya untuk berada di sini bersama ku. Aku ke Indoneisa empat bulan sekali untuk menemuinya.

Ada kerinduan yang mendesir-desir didinding hati ku. Aku bangkit dan mendekati ganggang telepon, lalu memutar nomer telepon di Palembang. Setelah empat kali deringan, akhiranya aku mendengar suara itu juga…

“bu, bagaimana kabar ibu? ”

“ibu baik-baik saja. Kapan kamu pulang?” pertanyaan rutin selalu ia lemparkan padaku

“nanti Nia usahakan bu, ya. bagamana uang yang Nia kirim kemaren cukup ?”

“tidak usah kamu menanyakan uang. Uang yang kamu berikan itu lebih dari cukup. Lagian kamu itu loh, kenapa selalu mengirim kan uang, kan ibu ada penghasilan dari Rumah Makan. Eh, iya, bagaimana kabar Robi? Apa dia sudah melamar mu?” Aku menelan ludah pahit. Robi adalah sahabatku dari Indonesia. Ibu selalu beranggapan bahwa aku dan Robi adalah sepasang kekasih. Karena mungkin Robi selau menelpon ibu, Robi memang sangat akbar dengan beliau. Tapi tidak mungkin aku akan mengatakan kepada ibu bahwa aku sama sekali tidak menyukai yang namanya laki-laki. Dan lebih tidak mungkin lagi aku akan berucap begitu lantang bahwa aku seorang Lesbian, yang ada mungkin ibu akan langsung pisangan bahkan langsung merenggang nyawa.

“dia sibuk bu, dengan pekerjaanya…ohya gimana dengan Rumah Makan ibu?” aku mengalihkan pembicaraan. Ada desah kecewa aku tanggkap dari hela napas ibu.

“masih seperti terahir kamu ke Indonesia nak. Nia, kamu harus ingat sama umur. Ibu tidak mau jika kamu begini trus. Ibu pengen punya cucu dari kamu Nia” suaranya mulai terisak

“tapi kan ibu sudah memiliki cucu dari Budi…” elakku

“Nia kamu tidak mengerti. Ibu pengen cucu dari kamu. Sampai kapan kamu mengejar Sesutu yang tidak pasti nak” ibu mualai menangis, kata-kata yang terucap dari bibirnya terbata-bata.

“iya bu…”

Pembicaraan ku pada ibu akhir-akhir ini selalu terputus dengan tangisan dan meninggalkan nyilu dalam jiwaku. Bu maafkan aku. Nia hanya ingin menemukan seseorang yang telah menggores jiwa ibu. Seseorang yang mencampakkan ibu begitu saja. Seorang laki-laki yang menjadikan Nia ada di dunia ini dan tak mau bertanggung jawab atas keadaaan ibu. Nia ingin tau sehebat apa laki-laki yang telah melukai wanita sebaik ibu. Walupun ibu sudah menikah lagi dengan laki-laki lain tapi aku belum puas sebelum menemukan laki-laki yang di sebut sebagai ayah kandung itu

* * *

Hanami tiba. Seoalah jadi jamur bagi penduduk Jepang. Mereka bergembira merayakan Hanami, perayaan yang melambangkan kecintaan masyarakat Jepang kepada bunga Sakura. Bunga sakura hanya mekar di awal bulan semi setelah beberapa minggu kemudian gugur kembali.

Di bawah-bawah pohon sakura muncul pula bunga-bunga kecil berwarna kuning yang membuat suasana tambah indah.

Tapi kadang ada keinginan ku untuk menyaksikan bunga Sakura bermekaran sepuas-puasnya di Miyajima, pulau terindah di Jepang. Miyajima tidak hanya terkenal dengan bunga Sakura di musim semi, namun juga terkenal dengan pohon Mamoji yang indah sekali saat musim gugur. Jujur aku ingin sekali ke pulau itu, tapi keinginan itu selalu tertunda karena kesibukan kerjaku di Lab.

Aku masih merasa dingin menyergap tubuhku. Aku memarkirkan mobil ku kemudian turun dan menuju ke Istana Raja Park. Banyak orang-orang Jepang yang berkumpul untuk menyaksikan keindahan bunga Sakura. Aku meluruskan topi yang menutupi sebagaian rambut panjanganku. Aku memilih duduk di sebuah kursi di bawa pohon Sakura. orang-orang Jepang benar-benar bersantai pada saat acara Hanami. Ada sedikit keirian singgah di hatiku ketika mataku menangkap pasangan-pasangan yang berkandengan mesra dan tertwa ceria.

“Sumimasen6!”

“An?kenapa kamu ada di sini?bukannya…”

“Suteki desu ne7. melihat bunga sakura rasanya hati jadi tenang” An duduk di sampingku. Ia tersenyum ke arahku “ Ets! Aku tidak sengaja loh ke sini. Kebetulan saja…” Rambut panjanganya di biarkan tergerai begitu saja.

“dasar. Just say that you follow me” aku tertawa geli

“you know Nia. seperti biasanya setelah bunga sakura berguguran ke tanah, suhu akan semakin panas…dan kembali sejuk setelah musim gugur. Seperti itu juga hati dia akan sering berubah-ubah, tak selamanya sebuha hati akan selalu tetap. Karena hati itu tidak permanent…” aku hanya terdiam mendengar ucapan An yang menurut ku sedikit ngaur, dia smencoba berkata romantis padaku. Tapi itu tetap gagal meyakinkan aku.

“An. Berhentilah untuk mencoba jadi kekasih ku. Itu akan percuma. I want ti find my father…”

“berapa kali kau bilang itu. 2 months ago Nia. aku akan menunggumu, tapi tolong berikan kesempatan aku untuk ada di sampingmu. Berikan aku kepastian…”

“aku telah memberikan kepastian Am. Iie8. Kau adalah sahabat ku. dari dulu pun aku selalu memberikan alasan yang sama kepadamu. Aku adalah wanita yang tak bisa terikat. Aku tak suka cara padangan laki-laki dan perempuan Indonesia tentang sebuah perasaan. Mereka cenderung ingin memiliki wanita hingga wanita tak bisa berkembang. Aku benci seperti An. Aku tak bisa berpura-pura dengan perasaan ku. Pacaran adalah hubungan lebih tepat di bilang kebohongan. Mereka bilang saling mengasihi, hidup layaknya sebagi pasangan serasi, tapi mata mereka masih saja menjalar mencari pasangan yang bisa di ajak kencan. Mereka membohongi diri mereka sendiri. Aku tak suka An. Aku ingin bebas mengeksperesikan diri untuk orang banyak. Aku tak mau mengikat diriku dalam kebohongan. Hubungan seperti itu hanya akan menghambat seseorang untuk maju An. Karena terlalu sibuk dengan perasaan sakit hati dan bahagia hingga banyak yang terlupakan dalam hidup…aku tak bisa. Aku tidak percaya cinta melebihi dari persahabatan.” kata-kata itu melunjur begitu banyak dari bibir ku.

“Nia. aku tak mau kita menjalani hubungan sebagai pacar atau sejenisnya. Aku ingin menjadikan kamu pasangan seumur hidupku. Agar ada teman berbagi Nia. Teman mencurahkan semua kasih sayang dan cintamu. Beban akan lebih ringan jika di bagi dua kan?”

“tidak An. Aku belum siap. Aku tidak bisa menjadikan mu sebagai pacar atau apalah…. Kau adalah sahabat baiku, aku tak bisa. Dalam hidup kebersamaan yang di ikat dengan perasaan cinta bukan priyoritas utama” An terdiam. Dia menunduk…

“maaf kan aku. Aku bukan wanita yang tepat. Kau adalah sahabat ku An. Kau akan mendapatkan wanita yang paling tepat dalam hidupmu aku yakin An. Cinta itu tidak bisa bertahan lama. Kau tau An, berapa lama cinta seorang pacar atau sepasang yang saling mencintai itu bertahan? Tidak lebih dari enam bulan. Sesudah itu mereka saling menyakiti dan menyakiti. Hidup dalam lingkaran yang sungguh mengerikan”

“Zannen desu9. Kenapa kau tidak mencoba untuk mencintai?”

“ku rasa aku tak perlu mencoba sebuah perasaan yang sudah pasti aku tebak An. aku tidak bisa mencoba-coba. Lalu terkurung pada satu ikatan yang menggelikan. Bagi ku hidup yaaa begini. Cukup di nikmati dengan cara kita masing-masing An”

“Don’t you thinking about your mother? Jika menikah dengan seorang laki-laki bagaimana? Aku tak apa jika itu bisa membuatmu lebih nyaman. Bagiku asal kau mempunyai teman hidup yang bisa menjaga mu siang malam”

“suatu saat dia akan paham. Dia akan mengerti An. aku yakin. Apalagi dengan laki-laki lebih parah. Sudah lah, jangan bicara soal ibu. Hatiku miris”

“tapi dia berharap padamu Nia?”

“An. menikah bukan jalan keluar…aku ingin hidup sendiri dulu. Aku belum siap menjalani hubungan dengan siapapun An” perdebatan itu berahir, ketika kami sama diam dan asik dengan pikiran masing-masing. Anney selalu terdiam setiap kali kala berdebat dengan ku. Walupun begitu dia tak pernah berkata kasar, dia selalu diam jika nada bicara ku mulai meninggi. Anney juga tak pernah memperpanjang setiap masalah di antara kami. Selalu dia yang menyelsaikan walupun kadang dengan cara konyolnya

Sungguh hatiku tidak enak menyinggung sahabat ku sendiri. An adalah wanita yang baik dan perhatian. Aku bingung pada Anney, padahal banyak wanita-wanita komunitas Lesbi yang mengejarnya, tapi sepertinya dia tidak terlalu perduli. Aku tidak mengerti kenapa dia terlau teropsisi pdaku, padahal banyak wanita yang lebih cantik dan menarik mengejarnya. Apa karena kami sesama orang Indonesia? Maafkan aku An aku belum mau menikah walupun usia ku tidak di dibilang mudah lagi untuk ukuran seoarang wanita yang lahir pada tahun 1978.

“bagaimana dengan anak Nia?” An kembali membuka pembicaraan

“An, I don’t like children. Banyak anak yang tak diingin kan di dunia ini. Aku tak berpikir akan menikah lalu punya seorang anak.Tidak! aku tidak mau melahirkan anak lalu menjadi beban dalam hidup ku karena aku tak bisa mencintai mereka” tegasku

“kau pasti kesepian saat masa tuamu nanti…dengan kursi roda…di rumah mewah, kau hanya duduk sendri sambil menyulam” nada bica An mulai mencair. Aku tertawa geli

“An!”

“lalu aku akan menghampiri mu, dengan tubuhku yang masih gagah…auww” An terpekik tertahan ketika cubitan kecil ku mendarat di lenganya.

“jubitan mu keras sekali Nia. kau bisa mematikan semua sarafku jika mencubitku begini” An mengalus-elus lenganya

“jangan mendaramatisir. Dasar orang Indonesia suka sekali membesar-besarkan sesuatu…”

“jadi aku menyebutmu sebagai orang Indonesia yang terlalu realistis kan? Wanita karir, gila kerja…dan gila Sakura…”katanya kemudian

“jangan begitu. Aku ingin menikmati Sakura. Kau cerewet sekali…bisakah kau diam An untuk sepuluh menit saja?” celteku agak serius

“okey. Aku akan memberikan discond waktu…kita sama-sama diam. Mulai” tiba-tiba An memejam kan matanya. Diam-diam aku memandangi wajah nya. Apa yang kurang dari wanita ini? Dia memiliki paras yang cukup menarik, dengan postur tubuh yang tinggi, mata berbinar seperti bulan purnama, hidungnya manjung layaknya seperti Kajol pemain film India. Tapi kenapa aku tidak bisa tertarik dengannya. Apakah memang aku belum siap? Apakah memang pikiran kami tentang sebuah hubungan berbeda. Ataukah aku terlalu fokos pada kuliah, kerja dan pencarian jejak sang ayah yang ingin kulihat wajahnya.

“aku cantik kan??” An memecengkan satu matanya. Membuyarkan semua lamunanku

“Mou ichido itte kudasai?10” kata ku sambil mengernyitkan dahi atas kernasisan An

“hahaha aku memberi kesempatan untuk wanita gila Sakura seperti mu memandangi aku lebih dalam dan tajam…aku memang bak bidadari yang muncul di dasar laut…cerdas…penghasilan lumayan…baik…dan…”kata-katanya berhenti ketika matanya menatap wajahku…

“trus…”

“aku mencintaimu” jawab An singkat. Matanya berbinar menatap wajahku

“oh Tuhan. Kimochi…! 11”

“salah?”

“salah. Karena kau mencintai wanita yang tak percaya akan cinta, pacaran dan pernikahan…kau mengejar ilusi An”

“kau nyata, kau bukan bayangan. Kalaupun kau bayangan setidaknya perasaan ku ini nyata” pernyataan kelese

“aku bingung dengan cinta. Itu penipu…satu jam mereka berkata cinta dengan ribuan kata-kata indah dengan pacar mereka, sejam kemudia mereka menemukan wanita yang lebih menarik dan cantik, mereka akan melakukan hal serupa An. Mungkin usaha yang di lakukan pemburu cinta bisa melulu lantarkan hati tapi setelah perempuan menyerahkan hatinya. Apa yang mereka dapat? Penghianatan. Semua sama”

“bagaimana dengan ku?”

“beda-beda tipis lah”

“di mana bedanya?”

“kau gombal….tapi kau tidak menampakan ke gilaan mu pada wanita-wanita yang mengjar mu. Itu di mata kasar ku.” Aku tersenyum

“oh mulyanya” An berdiri. Ia mengangkat kedua tanganya seolah ingin menengkap mentari.

“apa yang kau lakukan? Di kira nanti kau orang gila. Hentikan An”

“rasanya aku ingin bernyanyi lagu-lagu daerah Indonesia…”

“An!” aku menarik lenganya untuk duduk kembali di kursi kayu

“kau takut aku berteriak-teriak lagi? Seperti satu tahun yang lalu ketika aku menyanyikan lagu Pempek Lenjer? hahahhaha”

“kau itu nekat, dan kau merusak ajara hamani ku hari ini. Aku tak bisa menikmati bunga-bunga sakura karena terlalu banyak bicara padamu” aku cemberut

“baik lah, sahabat ku. aku mengaku salah”An kembali berdiri dan membungkuk kan badanya dalam-dalam

“hentikan An. kau tidak sadar, anak-anak kecil di sebelah mu sedang memperhatikan mu dari tadi” An menoleh ke arah anak-anak Jepang yang mematung melihat ke arahnya. An langsung duduk rapi di samping ku memasang muka seriusnya. An melambai-lambaikan tanganya ke arah anak-anak tersebut. Aku tersenyum geli.





* * *

“apa kau mau ke suatu tempat dengan ku?”

“An. aku di kejar deatline. Aku tak bisa kemana-mana. Aku harus menyelsaikan program S3 di secepat mungkin. Cukup kemaren aku menikmati hinami ku. Dan saatnya aku kembali bekerja.” An membisu.

Tapi aku memang sibuk karena jurusan di Universitas Jepang mewajibkan mahasiswanya menghasilkan publikasi ilmiah di jurnal internasional sebagai syarat kelulusan. Aku harus gencar dan cekatan. Karena kurang antisipasi kemajuan riset dan komunikasi dengan Professor pembimbing bisa menyebabkan waktu studi molor bahkan satu sampai dua tahun. Itu yang tak kuinginkan.

Kewajiban publikasi ini nampaknya khas Jepang yang tak ditemui di Amerika/Eropa, walau terasa berat tapi bisa memberikan catatan dan pengalaman yang berharga untuk mahasiswa bagi bekal meniti karir setelah kelulusan.



“maaf kan aku An. Satu jam lagi aku harus pergi. Bisakah kau keluar dari apartemenku?

“Sou desu ka12, kau mengusirku…”An memasang wajah memelasnya. An berdiri…

“tunggu An. aku tadi masak pempek. Kau bawalah. Aku tau kau sudah jarang sekali makan masakan Indonesia kan?” wajah An mendadak berseri. Ia mengekori ke dapur. Guratan kecewa di wajahnya mendadak hilang begitu saja ketika mendengar kata “makanan”

“kapan kau masaknya? Kenapa tak pernah bercerita? Pasti enak. Tapi tunggu dulu! kau tidak memasak nya seperti tekwan yang kau buat dulu kan ?terlalu asin”

“kau makan saja apa yang ku berikan padamu” aku menyodorkan dua mangkok yang tertutup yang berisi pempek dan cuka. Dia merai mangkok itu dengan sigap lalu berlalu dari ku begitu saja. Dasar tidak bisa berterimakasih.

“An! nanti kau bisa jemput mobilku di Lab. Aku akan kerumah Maria menyelsaikan laporan. Jadi aku ikut bersamanya” teriaku

“jam berapa?”gaung suaraya terdengar dari jauh.

“jam empat sore”

“oke! Itadakimasu13” terdengar pintu di tutup. Aku menghela napas.



* * *

“kapan kamu pulang ke Indonesia?” Tanya Maria tiba-tiba

“tiga minggu lagi setelah sakura gugur…” maria mengangguk-angguk. Mata coklatnya tak lepas dari layer laptop.

“bagaimana dengan lamaran An?”

“hentikan Maria. Aku tak bisa bersamanya. Aku harus menemukan ayah. Dan aku harus fokos dengan pekerjaan ku saat ini. Dan aku tak bisa bersama An. aku belum memikirkanya”

“kesempatan sudah terbuka lebar untuk mu memiliki An. jangan ada penyesalan di kemudian hari” aku menatap Maria.

“dasar! Wanita berhati dingin” aku cemberut

“suatu saat kau akan mengerti arti kehilangan Nia”

“kau dan An sama saja. Sudah aku mau tidur. Aku akan lebih tidak mengerti jika aku hidup dalam bayangan orang lain nantinya” aku menghempaskan tubuh ku di kasur empuk Maria, setelah merapikan kertas-kertas yang berhamburan di lantai.

“An berbeda. Toh dia bukan laki-laki. Dia hanya ingin kalian berkometmen. Dia ingin menjagamu Nia.Troma mu tidak akan berakhir kecuali kamu sendiri mengakhirinya” Maria duduk di sisi ranjang. Ia mengelus punggungku“dua bulan lagi aku akan menikah dengan Robet. Kau akan kembali kesepian. Karena aku tak akan bisa meluangkan waktu lagi untukmu Nia. kau harus punya teman hidup” aku membalikan tubuhku membelakangi Maria. Maria adalah teman ku. Tapi dia normal dia bukan seorang lesbian.

“iya aku tau bu dokter! Ku harap para peliharan mu juga tidak merasa kehilangan mu karena waktu mu sebagai dokter hewan akan tersita untuk seorang Robet” celoteh ku

“kamu itu. Masih kekanak-kanakan. Mungkin sekarang kau tidak akan merasa kesepian. Tapi nanti setelah teman-teman mu sudah mempunyai pasangan masing-masing kau tetap pada kesendirianmu…”

“iya…bangunkan aku satu jam lagi. Aku ingin tidur. Dan berhetilah berceloteh seperti burung beo mu” Maria tergelak mendengar ucapanku. Mungkin Maria benar. Tapi aku sudah bertekad untuk menemukan ayah ku, setelah itu aku bisa merencanakan hal lain dalam hidup ku

Mendadak aku merindukan Anney. Rindu sederhana tapi begitu teduh di rasa. Selama ini kami tak melakukan apa-apa kecuali kebersamaan biasa saja. Berdiskusi tentang film-film yang kami tonton atau buku-buku yang kami baca. Jika tidur di ranjang yang sama aku selalu memberi batas pada An dengan meletakan bantal guling di tengah-tengah kami. Dia selalu tertawa ketika melihat tingakh ku. dan aku selalu mengancamnya ketika malam sudah merayap

“jika kau menyerangku. Aku akan mementung kepalamu dengan panci” An hanya tertawa terbahak-bahak. Dia tak pernah macam-macam. Kecuali pelukan biasa jika dalam kedaan gembira atau sedih. Hanya itu. Sebatas peluk. Ada sekali dia mencoba mencium bibir ku, tapi aku melarangnya. Karena bagiku itu tak akan berarti apa-apa.

Enney. Maafkan aku. aku harus tetap mencari ayahku. Dan aku ingin menemuinya. Itu saja. Entah apakah ini dendam atau apa. Yang jelas aku ingin sekali mencaci maki laki-laki itu. Aku benar-benar membencinya.



* * *

Kelabu di Jepang….

“kau adalah wanita yang paling bodoh yang aku kenal. Di budak oleh pekerjaan dan obsesimu akan balas dendam pada orang yang tak tau ada di mana. Kau bodoh!” Anney berteriak-teriak hingga suara garangnya memantul di setiap ruangan apartemen ku.

“cukup!” timpalku dengan suara meninggi. Ku banting gelas jus ku hingga hancur berkeping-keping di lantai.

“kau membohongi diri mu sendiri. Kau akan merasa bahwa kau dalah orang yang kesepian. Dan egois!”Munggkin An sudah lelah meyakinkan aku, hingga dia kalab dan untuk pertama kalinya berkata kasar padaku. Mataku menghangat.

“kau kekanak-kanakan!” kata ku terisak

“kau yang kekanak-kanak kan!”aku kaget ketika ia mengajungkan jari telunjuknya ke mukaku. Semarah itukah An hanya karena aku menolaknya berkumpul dengan komunitas Lesbi minggu ini. Aku sudah bilang bahwa aku capek dan ingin istirahat di apartemen saja. Karena akhir-akhir ini stamina ku menurun.

“An…jangan berkata keras seperti itu”

“kau egois. Kau bahkan tidak menyayangi dirimu sendiri karena terlalu sibuk dengan perasaan mu yang tidak penting itu”

“Bahkan perasaan ini lebih penting dari nyawaku, karena ini adalah kehormatan sebagai wanita. Ibu ku sendiri” teriaku melengking

“ah. Itu adalah alasanmu. Bahkan ibu mu sendiri tidak terbuka soal hubunganya dengan ayahmu. Jangan-jangan ibumu sendiri yang menyerahkan kehormatan nya pada ayahmu!” telingaku memanas mendengar ucapan An dan muka ku merah padam. Hatiku seolah-olah dicurahi dengan minyak tanah dan disulut dengan api hingga berkobar-kobar.

Entah, aku tak sempat mengukur kecepatan kakiku lagi, ketika tiba-tiba aku sudah di depan An dan melayangkan tamparan yang begitu keras. Ia terdiam sambil memegangi pipinya yang memerah. Sekeras apa tamparan itu? hingga darah cair keluar dari bibir An. Dia panatas menerima itu, dia harus bertanggung jawab atas ucapannya.

Aku benar-benar tak tahan hingga aku berlari ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. Dia yang egois. Dia selalu memaksakan kehendaknya. Dan bahkan dia telah melukai perasaanku begitu dalam. Aku mendengar pintu di tutup. Pergi sana kau An, aku membencimu. Apa hak mu berkata seperti itu tentang ibuku?

Aku lelah menangis hingga tertidur begitu lama. Saat bangun aku melihat sudah gelap. Aku bangkit dari tempat tidurku. Wajahku sembab, mataku membengkak merah.

Astaga! aku belum menutup pintu dan jendelaku. Aku bergegas keluar. Tapi lampu ruang tengah sudah menyala dan tirai-tirai sudah tertutup rapi. Bahkan di meja makan aku menemukan beberapa makanan, aku hamir lupa jika seharian perut ku belum diisi apa-apa. Air liurku meleleh. Kepala ku pusing untuk berpikir siapa yang melakukanya.

Aku menemukan sepujuk surat di atas meja. Dari An. Jadi dia yang melakukan ini.

Nia maafkan atas ucapanku. Itu benar-benar di luar kendali. Karena kesabarakan ku sudah pupus meyakinkan betapa aku ingin bersamamu. Dan aku ingin merubah pola pikirmu tentang sebuah hubungan. Jika saja kau memberikan kesempatan ku untuk membagi rasa ini? Aku selalu ingin mencoba Nia. tapi kejadian ini mengingatkan aku tentang keinginanku dan obsesiku yang salah ingin memilikimu seutuhnya. Aku benar-benar meminta maaf atas ucapanku. Dan aku akan meninjau ulang kembali perasaan ku padamu. Maaf kan aku. Selamanya kau adalah sahabat ku.



* * *

Aku tak menemukan An di mana-mana. Aku sudah beberapa kali keapartemenya dan bahkan dia tidak masuk kerja satu minggu. Di mana dia? Cemas mulai menyergap jiwaku. Dan mobil nya masih terparkir di apartemen. Dia mana An? Aku hanya ingin meminta maaf. Ternyata dia benar soal ibu. Ibu sudah bercerita tentang ayah. Bahwa ibu lah yang menyerahkan kehormatanya kepada seorang polisi Jepang yang sudah berkeluarga, saat itu itu ibu mejadi TKI. Karena ibu sangat mencintai ayah dia memilih meninggalkan Jepang karena tidak mau menjadi beban ayah.

An kamu di mana? Maaf kan aku. Apakah ada kesempatan untuk ku memperbaiki kesalahan? Aku duduk meringkung di lantai. Tanganku tak lepas dari phonesel berharap An menelpon. Setidaknya sekedar sms. Agar aku tau dia ada dimana. Waktu itu kami sama-sama emosi. An kembalilah…

Air mataku meleleh. Aku tak tau perasaan ini begitu bergecamuk. Rasa cemas, rindu, menyesal…semuanya di aduk menjadi satu hingga aku hanya bisa tertegun dan menangis.

Dringgg!!!! Telepon di apartemen ku berdering. Aku melujur menuju ganggang telepon

“Moshi-moshi14…Konbanwa15. Nia. Maaf kan aku. Apakah aku bisa ke apartemen mu sekarang?”

“Annnnnnnnnnn”aku berteriak campur tangis. Aku senang sekali mendengar suaramu

“maaf kan atas perkataan ku…”

“kau di mana?”

“aku ada di depan pintu apartemen mu. Tolong dibukakan. Aku kelaparan”

“Annnnn” aku berlari menuju pintu. Dan An sudah berdiri di depan pintu dengan muka yang pucat. Dan bahkan pakaian yang dikenakannya adalah pakaian pertama kali kami bertemu saat pertengkaran itu. Aku meraih tanganya dan menarik masuk ke dalam apartemen. Aku menutup pintu.

“O genki desu ka14? An?” tanyaku begitu cemas sambil menyentuh pipinya. An hanya menggeleng “kamu dimana saja? Aku mencarimu di mana-mana?” aku bergegas mengambil kan makanan untuk An. Semua makanan kesukaannya bahkan ku bawa kehadapanya.

“aku nginap di hotel seminggu. Aku tau pasti kau akan mencariku. Jadi aku melarikan diri saja”

“dasar kekana-kanakan. An. Makan lah dulu. Aku akan menyiapkan air panas untuk mu mandi” kataku lagi. Aku beranjak dari hadapan An. Mendadak dia memegang jari-jemariku. Sentuhan nya kali ini begitu berbeda. Aku merasa ada gerataran yang aneh. Sentuhan yang aku inginkan. An memandangku. An berdiri dan menghadapkan mukanya tepat di wajah ku.

“An…aku…aku minta maaf karena menyakitimu…”

“trus…”

“ya maafkan aku…”

“trus…” jemari-jemari An menyentuh pipiku. Aku hanya terdiam. Hingga dia mendaratkan satu kecupan di bibirku. Aku tetap terdiam. Aku merasa nyaman.

“kau tidak salah aku sudah memaafkan mu…dan maaf kan aku juga” aku mengangguk. Ketika An memeluku. Aku mendorong tubuhnya

“kenapa? Bukankah kau merindukan aku? masih mengelak bahwa kau mencintaiku? Kau tak menolak saat ku cium kan?”

“ahhhh…bukan itu aroma tubuhmu membuatku akan pingsan dalam dua menit lagi” An tergelak.

Malam itu aku mencoba jujur tentang perasaan ku

“aku akan mencoba An bersamamu. Mencoba ada di sampingmu. Mencintaimu” kataku lirih. Saat kami tidur satu selimut. Tangan An terkulai menyanggah kepalaku yang tertidur dilenganya

“An. Bolehkan aku mencintaimu? Aku mau An…kita hidup bersama…mungkin kita bisa mengadospi anak…punya keluarga…” aku tidak tau mengapa aku bisa begitu jujur malam ini setelah bercinta denganya.

“semuanya belum terlambat kan An?” Tanya ku. Mendadak aku mendengar bunyi aneh dari bibir An. Groookkkk! Astaga, dia ngorok. Ternyata dia tidur dari tadi. Dia tidak mendengarkan aku

“An!” aku melempar muka An dengan bantal. Tapi dia tak bergeming. Dia begitu pulsa tertidur. Aku sekan tak tega membangunkanya. Aku memeluk tubuhnya. An betapa aku sadar bahwa cinta itu sangat berharga. Ajarkan aku cara mencintaimu An. Berlahan ku kecup hidung An…malam trus bergulir.

Besok akan kujalani hidup baru bersamamu An. Aku tau reseko apa yang harus aku tanggung jika memilih An sebagai pasangan hidup ku. mungkin ibu akan sok berat. Tapi aku akan menyimpan rahasian ini. Karena kadang kejujuran tidak membawa kebaikan, jika di paksakan. Ibu maafkan aku. Karena memang hatiku tak bisa di bohongi. Aku tak bisa menghinati perasaan ku sendiri. Cinta itu adalah pilihan dan pilihan adalah reseko dalam hidup.



***



Catatan

1. menonton bunga

2. kotak yang berisi makanan

3. selamat siang

4. Mohon maaf

5. tidak apa-apa

6. Permisi

7. indah ya…

8. tidak

9. amat disayangkan

10. Tolong ucapkan sekali lagi

11. perasaan/isi hati

12. Jadi begitu

13. Terima kasih atas makanannya

14. hallo

15. selamat malam

16. bagaimana kabarmu?

Salah satau cerpen di buku PELANGI PEREMPUAN
Diposting oleh Honda Aini

0 komentar:

Visit the Site
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger templates